Menjadi Pahlawan Dalam Arti Sesungguhnya

“Betapa bangganya PT KAI,” kata saya, “Mereka mempunyai 3 pahlawan yang sangat dibanggakan oleh seluruh pegawai PT KAI, bahkan mungkin bagi kita bangsa Indonesia,” imbuh saya. “Mereka adalah pahlawan dalam arti sesungguhnya saat ini.”

Senin, 9 Desember 2013, sebuah kereta api komuter jurusan Serpong-Tanah Abang bertabrakan dengan truk pengangkut BBM di perlintasan kereta api Bintaro, Jakarta Selatan. Lima orang meninggal dunia, termasuk masinis yang bernama Darman Prasetyo, asisten masinis Agus Suroto dan teknisi kereta bernama Sofyan Hadi. Tiga puluh tiga orang luka berat dan puluhan mungkin ratusan orang luka ringan. Salah seorang korban meninggal dunia, Rosa Elizabeth (73 tahun), adalah tetangga rumah saya di Bintaro, Jakarta Selatan. Kebetulan kami sama-sama aktif di RT dalam banyak kegiatan. Mama Rosa, biasa kami memanggilnya, adalah sosok wanita yang energik dan bersemangat di usia senjanya. Semoga beliau diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Kisah kepahlawanan Darman Prasetyo, Agus Suroto, dan Sofyan Hadi, begitu mengharu biru siapa saja yang mendengarnya. Mereka adalah contoh keteladanan. Mereka tidak lari dari tangung jawab dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Bagaimana tidak! Manakala ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, mereka lebih memilih untuk bertahan di lokomotif kereta. Posisi mereka memungkinkan untuk mengetahui apakah tabrakan dapat dihindari atau tidak. Mereka terus berjuang menghentikan laju kereta walaupun nyawa adalah taruhannya.

Sofyan Hadi, diceritakan oleh penumpang yang selamat, bahkan sempat ke gerbang terdepan memberitahu penumpang akan terjadi tabrakan dan meminta mereka untuk pindah ke gerbang di belakangnya. Alih-alih ikut menyelamatkan diri, Sofyan Hadi malah kembali ke ruang masinis, bergabung kembali dengan rekannya. Tidak terbayangkan, berapa korban meninggal dunia bila Sofyan Hadi tidak melakukannya.

Sengaja saya menjadikan kisah kepahlawanan mereka sebagai tema motivasi yang saya berikan, saat morning activity, kepada seluruh pegawai KPP Pratama Timika. Selain karena kisah mereka sangat inspiratif, juga karena bertepatan dengan bulan Agustus, bulan dimana seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan.

Senin, tanggal 10 Agustus 2015, seperti biasanya kami mengadakan kegiatan morning activity. Kami memulainya tepat pukul 07.30 sampai pukul 08.00 WIT. Sengaja kami memulainya pukul 07.30, sesuai dengan saat dimulainya jam kerja, dan apabila ada yang terlambat mengikuti kegiatan tersebut, wajib menyampaikan permintaan maaf dan menyebutkan alasannya (tidak terkecuali saya sebagai kepala kantor). Harapannya, kami semua menjadi lebih disiplin waktu dan mempunyai jiwa kesatria untuk mengakui kesalahan.

Kegiatan morning activity di KPP Pratama Timika dilakukan setiap hari Senin dan Rabu, yang wajib diikuti oleh seluruh pegawai KPP Pratama Timika. Secara bergantian, seluruh pegawai berperan dalam kegiatan itu, ada yang menjadi MC, pembaca doa, pembaca nilai-nilai Kementerian Keuangan, dan ada pula yang menjadi motivator. Kebetulan pada hari itu, saya diberikan tugas untuk memberikan motivasi.

“Tidakkah kita ingin menjadi pahlawan seperti mereka?“ tanya saya, “Apakah kita semua bisa menjadi pahlawan?”

“Untuk menjadi pahlawan tidak harus yang sudah meninggal dunia,” lanjut saya, ”Kita pun bisa menjadi pahlawan dalam arti sesungguhnya.”

“Ya, kami di KPP Pratama Timika ingin menjadi pahlawan.”

Kami, ingin menjadi pahlawan bagi institusi kami, menjadi pahlawan bagi bangsa dan negara kami, menjadi pahlawan di mata keluarga kami. Kami adalah pahlawan dalam menghimpun penerimaan pajak. Tanpa kami, di KPP Pratama Timika, dan seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak, negara  akan lumpuh.

Direktorat Jenderal Pajak merupakan institusi yang vital bagi negara Indonesia. Bagaimana tidak, target penerimaan pajak adalah sebesar Rp1.294,3 triliun atau 74% dari pendapatan negara dalam APBNP-2015 yang sebesar Rp1.761,6 triliun. Sedangkan kami di KPP Pratama Timika, dipercaya untuk menghimpun penerimaan pajak tahun 2015 sebesar Rp2,649 triliun. Jumlah yang tidak sedikit dan tidak mudah bagi kami mencapainya.

Kami di KPP Pratama Timika, bangga menjadi bagian dari Direktorat Jenderal Pajak. Bangga menjadi komponen kecil sebuah institusi yang menjadi tumpuan bangsa dan negara Indonesia. Kebanggaan itulah yang memberikan semangat bagi kami dalam bekerja. Kebanggaan itulah yang membuat kami mencintai pekerjaan kami.

 

Salam,

Hadi Susilo

 

Sumber gambar: www.ilmugrafis.com

Salam dari Timika

salam 953 sept 2015Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KPP Pratama Timika, sebagai salah satu KPP di Kanwil DJP Papua dan Maluku, diberikan amanat untuk menghimpun penerimaan pajak pada tahun 2015 sebesar Rp2.649 milyar atau Rp2,649 triliun. Wilayah kerja KPP Pratama Timika meliputi 4 (empat) kabupaten yaitu Kabupaten Mimika, Paniai, Deiyai dan Intan Jaya.

Untuk mencapai target penerimaan pajak sebesar itu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerja keras dari seluruh pegawai di KPP Pratama Timika untuk mewujudkannya. Dengan etos dan semangat kerja yang kuat dari seluruh pegawai KPP Pratama Timika dan didasarkan pada nilai-nilai Kementerian Keuangan yaitu Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan, kami yakin dapat mewujudkan amanat tersebut.

Tentunya, peran serta para pemangku kepentingan KPP Pratama Timika, khususnya Wajib Pajak, tidak dapat kami abaikan. Kami percaya, kesuksesan kami dalam menghimpun penerimaan pajak yang diamanatkan kepada kami, tidak akan tercapai tanpa dukungan dan peran serta para Wajib Pajak kami.

Untuk itu, kami ingin menjadikan KPP Pratama Timika menjadi institusi yang kredibel dan dapat dipercaya oleh masyarakat, khususnya Wajib Pajak. Kami berusaha menjadikan integritas sebagai koridor kami dalam bekerja. Kami ingin mewujudkan KPP Pratama Timika menjadi institusi yang bebas dari praktik penyuapan, pemerasan, dan gratifikasi.

Tak lupa, kami juga senantiasa berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar kami semua diberikan kemudahan dalam bekerja, diberikan petunjuk dan bimbingan-Nya, diberikan keselamatan sehingga kami semua menjadi pegawai yang dapat dibanggakan oleh masyarakat, Wajib Pajak, institusi kami Direktorat Jenderal Pajak, dan tak lupa adalah menjadi kebanggaan bagi keluarga kami tercinta.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Timika, September 2015

 

Hadi Susilo
Kepala KPP Pratama Timika